Dosen FRI Kampanyekan Pencegahan Bullying

Topik bullying atau perundungan menjadi hal yang sudah tidak asing lagi di masyarakat khususnya lingkungan sekolah. Baru saja khalayak ramai dikagetkan oleh peristiwa perundungan yang dilakukan oleh siswi- siswi sekolah menengah, terjadi lagi kegiatan serupa yang melibatkan anak-anak sekolah dan parahnya peristiwa perundungan tersebut direkam dan disebarluarkan. Dengan adanya fenomena bullying ini di lingkungan sekolah maka salah satu Program Pengabdian Masyarakat Dosen Fakultas Rekayasa Industri Universitas Telkom berinisiatif untuk melakukan sosialiasi dan awareness terhadap keberadaan bullying di lingkungan sekolah. Pada Hari Jumat, tanggal 16 Maret 2018, Tim Dosen dari Fakultas Rekayasa Industri Universitas Telkom yang diketuai oleh Devi Pratami, MT dan anggota Fida Nirmala, M.Psi, Litasari Suwarsono, M.Psi serta Maria Delarosawati,MT, mengadakan acara seminar yang berjudul “Seminar Bullying, Apa bentuknya? Apa Dampaknya dan bagaimana pencegahannya?”.

Acara seminar ini diselenggarakan di Aula TK Sarah Shabrina yang terletak di Jalan Parakan Saat no 60. Acara tersebut dihadiri oleh 42 peserta yang berasal dari lingkungan Taman Kanak-Kanak (TK) dan Kelompok Bermain (Kober) daerah Arcamanik Bandung seperti TK Albiruni, TK Bunda Asuh Nanda, TK Esa Saputra, TK Kasanda, TK Nursalam, TK sabilulungan, TK Eka Saputra, TK Picu Pacu, TK Putra I, TK Permata Bunda, TK Larissa, TK Nusa Indah, TK Aisyaisiyah, TK Badak Putih, TK Paripurna, TK Nursalam, Paud Zuhrotul Azhar, TK Anak Ceria, TK Fathurochman, Paud Anggrek, KB Eka Saputra, PAUD Anggrek serta beberapa perwakilan guru BK dari sekolah menengah pertama. Mengapa dilakukan di kawasan Taman Kanak-kanak? Karena pembentukan karakter sebenarnya ditentukan sejak usia dini. Peran orang tua, guru, teman, dan lingkungan sekitar dapat mempengaruhi perilaku anak.

Narasumber yang berasal dari Dosen di Universitas Telkom ini membuka sesi pertama seminar dengan mengenalkan apa sebenarnya bullying dan fenomenanya. “Bullying pada dasarnya adalah menganggu, mengusik secara terus menerus, bentuk bullying di sekolah bisa berupa mengejek, menyakiti fisik seperti menjambak, mencubit dan mengganggu anak yang berbeda dengannya” ujar Fida Nirmala, M.Psi, yang sedang menempuh Program Doktoral Psikologi Universitas Padjadjaran Bandung. “Pada umumnya topik yang biasanya dijadikan bullying sedari dulu adalah nama orang tua, mereka menggunakan nama orang tua untuk dijadikan bahan ejekan” tambah Litasari. Hal tersebut juga terjadi di salah satu sekolah tempat salah satu peserta. Apa saja yang menyebabkan seseorang menjadi pelaku bullying adalah pola asuh yang permisif, terlalu keras, kurang supervisi dari orang tua dan mencontoh lingkungan sekitar, bisa jadi justru dari orang tuanya.

Adapun ciri pelaku bullying adalah agresif berlebihan, destruktif, menodminasi anak lain, mudah frustasi, dan salah menginterpretasikan perilaku orang lain. Dilain pihak, bagaimana ciri-ciri anak yang terkena bullying? Litasari menguraikan ciri-ciri anak yang menjadi korban bullying diantaranya adalah tiba-tiba enggan pergi ke sekolah, sering sakit secara tiba-tiba, mengalami penururan nilai, barang yang dimiliki ada yang rusak atau hilang, sering bermimpi buruk atau susah terlelap, rasa amarah atau benci yang mudah meluap atau meningkat, sulit berteman dengan teman yang baru, memiliki tanda fisik seperti memar atau luka. Lantas apa yang harus dilakukan untuk mencegah perilaku bullying di sekolah? “Sekolah harus turun serta dalam memotong mata rantai persitiwa bullying karena pelaku bullying biasanya merupakan korban dari bullying itu sendiri dulunya” ujar Litasari selaku narasumber acara sesi kedua.”Sekolah harus turun serta untuk menghentikan dan mencegah perilaku bullying, karena berdasarkan dari suatu riset, peranan sekolah menuntaskan bullying dapat mencegah perilaku bullying sebanyak 15-50%, apalagi seluruh elemen sekolah mulai dari Kepala sekolah, Guru, staf, orang tua, murid, bahkan ibu kantin juga ikut serta dalam menghentikan bullying

Litasari juga menambahkan bahwa pelaku bullying jika tidak dihentikan sedari dini, tanpa intervensi dari lingkungan maka perilaku tersebut cenderung akan terus berlanjut, bahkan berkembang menjadi tindakan kekerasan. Anak yang secara konsisten melakukan perilaku bully akan cenderung tetap menunjukkan perilaku agresifnya hingga remaja bahkan dewasa. Jika peristiwa bullying itu terjadi maka langkah tepat yang harus dilakukan adalah segera laporkan kepada pihak terkait seperti guru di sekolah, jangan dibiarkan berlarut-larut karena takut sesuatu”. Libatkan anak dalam semua kelompok jangan sampai ada yang merasa tersisihkan. “Pola asuh instant gratification membuat anak menjadi manja dan cepat frustasi juga keinginanya tidak tercapai” ujar Fida. “Sebagai contoh dari instant gratification adalah anak yang merengek-rengek ingin makan mi instan dan karena takut anaknya semakin rewel orang tuanya dengan segera membuatkan mi instant tersebut agar anak tersebut diam. Sebaiknya anak diajak mengikuti bagaimana cara memasak mi instant sehingga dia paham bahwa untuk memperoleh keinginan membutuhkan proses, dengan demikian anak dapat memahami bahwa tidak ada sesuatu yang diperoleh dengan instan” tambah Fida.

Sekarang waktu bullying yang awalnya berbatas waktu dan tempat, kini bisa jadi dimana saja dan dalam waktu kapan saja. Bullying jenis ini disebut dengan Cyberbullying. Bullying ini dilakukan dengan menggunakan media internet seperti social media, forum, email dan sebagainya. “Jika dulu perilaku bullying mungkin bisa dihitung dengan jadi, kini pelaku bullying bisa sangat banyak dan tidak teridentifikasi” Ujar Lita kepada peserta. “ Di luar negeri cyberbullying sudah memakan korban oleh karena itu disetiap forum-forum online terdapat moderator yang sangat concern terhadap bullying”. Merupakan pekerjaan rumah yang sangat berat bagi orang tua dan guru yang hidup di generasi gadget mengenai fenomena cyberbullying ini. Dengan adanya seminar tersebut, guru, orang tua akan semakin waspada terhadap aksi bullying dan turut serta dalam pencegahanya agar tidak menjadi tradisi. Say No to Bullying

 

Kontributor: Devi Pratami

 

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

eleven − 5 =